Mitos : Kehujanan menyebabkan masuk angin.

masuk angin pic 150x150 Mitos : Kehujanan menyebabkan masuk angin.Mitos : Kehujanan menyebabkan masuk angin.

Fakta :
: Mitos masuk angin memang ada benarnya, namun ada pula salahnya. Misal, kita beranggapan bahwa kehujanan bisa menyebabkan masuk angin, demam, batuk, pilek, dan badan linu-linu. Padahal ini adalah gejala khas dari infeksi virus influenza? Apa hubungan antara air hujan dengan virus influenza? Apakah di dalam air hujan terdapat virus influenza? Apakah di balik baju yang basah terdapat segerombolan virus yang siap menyerang? Tentu tidak. Lalu ketika kita usai kehujanan pula sering beberapa di antara kita merasakan perut kembung, kemudian melilit dan akhirnya mengalami diare. Apakah air hujan juga membawa bakteri perut? Apakah baju basah membuat bakteri jahat merembes menembus kulit dan otot? Tentu tidak.

Mengapa kita sakit setelah kehujanan? Apakah kita pernah berpikir bahwa para atlet renang yang hampir 8 jam sehari berada di kolam renang sering masuk angin? Bahkan kita sendiri saat berekreasi ke pantai atau berenang di kolam renang tetap segar bugar. Padahal sama-sama air? Mengapa bisa demikian?

Disiplin ilmu psikoneuroimunologi (PNI) menjelaskan dalil (hadis qudsi) bahwa Allah itu sebagaimana prasangka hamba-Nya. Prasangka adalah dugaan atau persepsi kita. Bila Allah saja wujud dan keberadaan-Nya tergantung kepada cara kita memahami dan memaknainya, apalagi sebuah fenomena dalam kehidupan. Persepsi kita adalah bentuk lain dari doa. Saat tubuh kita kehujanan, lalu kita merasa sengsara dan menganggap akan sakit, maka kemungkinan besar kita akan sakit.

Darimana datangnya ‘doa’ jelek tersebut? Dari informasi yang dicangkokkan ke dalam benak kita. Darimana datangnya informasi itu? Dari pengetahuan yang kita terima sebagai sebuah budaya. Dan budaya tersebut kemudian diwariskan secara turun-temurun. Lalu kita meyakininya sebagai sebuah kebenaran. Dengan demikian kita sudah berburuk sangka terhadap air hujan. Keyakinan bahwa kehujanan akan membuat sakit diterima dan menciptakan teror kecemasan di otak ketika kita mengalaminya. Saat cemas itulah terjadi peningkatan kadar hormon kortisol, sehingga sistem pertahanan tubuh menjadi lemah. Kondisi ini memudahkan kuman atau virus yang tidak diundang masuk dan menggangu sistem tubuh kita. Tanpa disadari, ketakutan dan kecemasan kita telah mengundang mereka untuk “berpesta”.

Darimana mereka datang? Bisa dari lingkungan sekitar, dari orang lain yang kita jumpai, atau bahkan dari antrean virus di sekitar lubang hidung kita yang memang sudah menunggu-nunggu giliran untuk masuk. Sedangkan pada kasus diare atau sakit perut, kuman yang menjadi penyebab bisa saja merupakan bagian dari “kuman baik” yang selama ini hidup dalam harmoni di sistem pencernaan kita. Mereka menjadi tidak terkendali dan “over populasi” ketika sistem pertahanan tubuh kita dilanda kecemasan. Akibatnya mereka lebih mementingkan keselamatan masing-masing. Inilah sebuah gambaran indah tentang manifestasi dan aplikasi sebuah doa. Sebagai sebuah harapan yang sarat dengan praduga, maka doa diefektori atau diijabah justru oleh sistem tubuh kita sendiri, Subhanallah.

VN:F [1.9.3_1094]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.3_1094]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Blogplay

Leave a Reply